Serat Cebolek dan Syekh Ahmad Al-Mutamakkin - KMPP Yogyakarta

Rabu, April 13, 2016

Serat Cebolek dan Syekh Ahmad Al-Mutamakkin



 

Riwayat Syekh Mutamakkin

Syekh Mutamakkin atau yang kita kenal dengan sebutan Mbah Mutamakkin adalah ulama kontroversial pada zaman Mataram Kartosuro, pada abad ke-18. Sejarah menempatkannya sebagai seorang tokoh “sempalan”, atau sejajar dengan Syekh Siti Jenar, Sunan Panggun, dan Syekh Amongraga. Bedanya “vonis sesat” bagi Mbah Mutamakkin tak berakhir dengan maut. Berbeda dengan tiga pendahulunya Syekh Siti Jenar divonis mati dengan sebilah pedang semasa Wali Songo. Lalu, Sultan Panggung dibakar di era Demak. Adapun Syekh Amongraga ditenggelamkan ke laut pada masa Sultan Agung.
Menurut Gus Dur, Mbah Mutamakkin tidak dihukum mati karena tidak konfrontatif, walau pahamnya berseberangan dengan keraton. Dia lebih memilih hubungan yang harmonis. “Mbah Mutamakkin memakai pendekatan kultural, bukan pendekatan politik”, kata Gus Dur dalam sebuah diskusi. Syekh Mutamakkin diyakini berdarah biru. Ia dipercaya sebagai keturunan Joko Tingkir, cicit Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir. Ia terlahir dengan nama ningrat Sumahadiwijaya. Tanggal kelahiran tak diketahui pasti, diperkirakan tahun 1645, dan meninggal 90 tahun kemudian. Ayah dari Syekh Mutamakkin adalah Sumohadinegoro alias Pangeran Benawa II, raja terakhir Pajang. Sedangkan ibunya putri Raden Tanu. Pangeran Benawa II adalah putra Sumahadiningrat alias Pangeran Benawa I, anak Joko Tingkir alias Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya. Joko Tingkir adalah putra Kiai Ageng Pengging atau Kiai Kebo Kenongo atau Kiai Handayaningrat atau Kiai Ageng Butuh, yang makamnya terletak di Desa Butuh, Kecamatan Plupuh, Sragen, Jawa Tengah. Joko Tingkir adalah menantu Sultan Trenggono, putra Raja Demak, Raden Fatah. Adapun ibu Syekh Mutamakkin adalah anak Raden Tanu putra Sayid Ali Asghor, trah Sunan Bejagung, Tuban, Jawa Timur. Syekh Mutamakkin juga disebut-sebut punya garis keturunan langsung dengan Nabi Muhammad SAW. Pangeran Benawa II, ayah Syekh Mutamakkin, minta suaka ke Giri setelah Pajang diserang Mataram, tak lama, karena Giri pun akhirnya ditaklukkan Sultan Agung. Pangeran Benawa II kemudian menyingkir ke Desa Cebolek-sekitar 10 kilometer dari Tuban. Di tempat inilah Syekh Mutamakkin dilahirkan sehingga dijuluki Mbah Mbolek.
Nama Al-Mutamakkin didapatkan sepulang berguru di Timur Tengah. Secara harfiah, dalam bahasa Arab, al-mutamakkin berarti orang yang meneguhkan hati atau yang diyakini kesuciannya. Tidak jelas tahun berapa ia mulai menapakkan kaki di Kajen. Diperkirakan, setelah naik haji, dia tak langsung ke Tuban, melainkan ke sebuah desa di Pati bagian utara. Kini tempat itu pun dikenal dengan sebutan Desa Cebolek. Masyarakat disitu percaya, nama itu diberikan Syekh Mutamakkin sendiri ketika dia tiba-tiba terjaga, atau cebul-cebul melek, diatas seekor ikan Mladang.
Sebuah versi menyebutkan, Syekh Mutamakkin dari Mekkah diantar muridnya bangsa jin, yang kemudian menitipkan ke ikan tersebut. Masyarakat Kajen sampai saat kini pantang memakannya. Kabarnya, jika dilanggar, gatal-gatal bakal menyerang seluruh tubuh. Setelah beberapa lama menetap di Desa Cebolek, menjelang sholat isya’ Syekh Mutamakkin melihat isyarat sinar terang seperti bintang jatuh. Dia pun menuju sumber cahaya yang ternyata berasal dari Desa Kajen tersebut. Disana dia bertemu Haji Samsudin, yang diyakini sebagai empu atau kiai Desa Kajen. Kedua tokoh ini pun bertukar ilmu agama. Haji Samsudin mengakui keunggulan ilmu syariat Mutamakkin. Dia kemudian menyerahkan anak pertamanya, Nyai Qadimah, untuk diperistri Mutamakkin. Haji Samsudin juga menyerahkan Desa Kajen kepada Syekh Mutamakkin.
Serat Cebolek : Mutamakkin Mengajarkan Ajaran Sesat
Yang paling gelap menggambarkan sosok Mutamakkin adalah Serat Cebolek, yang ditulis R. Ng. Yasadipura I (1729-1983). Dia menganggap sesat, karena mengajarkan tasawuf kepada masyarakat awam, yang ketika itu dilarang. Dakwah yang disampaaikan Mutamakkin dianggap tak sejalan dengan syariah. Murid Syekh Zeyn-tokoh Naqsyabandi asal Yaman-itu dianggap ingkar sunah, karena mengajarkan msitisisme lewat kisah jagat perkeliaran Serat Dewaruci. Cerita ini merupakan indigeous local anonim dan diadaptasi dari babon cerita Mahabarata. Isinya, pedoman kesempurnaan hidup, yang dipaparkan lewat dialog Bima dan Dewaruci. Lakon ini dikenal sejak Zaman Walisongo.
Mutamakkin juga dianggap kelewatan karena menamakan anjing-anjingnya dengan nama persis penghulu kerajaan: Abdul Kahar dan Qomaruddin. Dalam Serat Cebolek, sosok Muatamakkin benar-benar dikerdilkan. “Jika dia tidak pernah pergi ke Mekkah, dia lebih cocok sebagai penjual jerami atau pengadu”, kata Demang Urawan, Bupati Jeri yang diperintahkan Raja Pakubuwana II untuk menyeleksi dewan ulama yang mengadili Mutamakkin. Dewan itu beranggotakan 11 orang. Sembilan diantaranya merekomendasikan kepada raja agar Mutamakkin dibakar diatas pematang kayu. Raja tidak setuju. Dia beranggapan bahwa msitisisme Mutamakkin hanya untuk dirinya sendiri. Dia minta Mutamakkin diampuni dengan syarat tidak akan mengulangi lagi. Praktis, pengadilan itu berlangsung searah: sama sekalai tak ada pembelaan dari Syekh Mutamakkin. Ketika ditantang Kiai Anom Kudus, yang memimpin dewan ulama, untuk memberikan tafsir Serat Dewaruci, Mutamakkin disebut-sebut hanya bungkam. Kiai Anom Kudus malah sempat menyindir Mutamakkin untuk pergi lagi ke Arab, belajar kitab. Dalam Serat Cebolek, Kiai Anom Kudus dilukiskan sangat cemerlang. Serat Dewaruci dipaparkan dengan sangat gamblang dan terang.
Versi Serat cebolek itu “diputihkan” Teks Kajen. Yang kedua ini berasal dari cerita lisan yang dituturkan secara turun-temurun dan dibukukan pada 1972 oleh seorang pengikutnya. Soal memelihara anjing, Teks Kajen, seperti masyarakat Kajen, punya tafsir lain. “Jangan diartikan secara mentah,” kata Kiai Sahal Mahfudz, seorang keturunan Syekh Mutamakkin yang pernah menjabat sebagai Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Diyakini bahwa binatang itu adalah jelmaan hawa nafsu Syekh Mutamakkin. Diceritakan, selain tekun mendalami ilmu agama , Mutamakkin sering menjalani riyadloh, dengan mengurangi makan, minum, dan tidak tidur berhari-hari. Penjelmaan hewan ini terjadi ketika Mutamakkin berpuasa 40 hari. Menjelang berbuka, istrinya Siti Zulaiqoh, disuruh memasak makanan yang lezat. Untuk mengekang nafsu makan, ia mengikatkan kedua tangannya dengan tali pada tiang rumah menjelang berbuka puasa. Nah, saat itulah nafsu Syekh Mutamakkin berubah menjadi dua ekor hewan yang segera melahap hidangan sampai tandas. Ketika hewan itu inging masuk kembali, Mutamakkin menolaknya. Satu versi menyebutkan, kedua hewan itu berupa seekor anjing dan singa. Yang lain menyebutkan, kedua-duanya anjing. Kedua hewan itu diberi nama mirip dengan pengulu dan katib di Tuban, Abdul Qahar dan Qomaruddin. Kedua binatang itulah yang selalu mengikutinya ke mana pun Mutamakkin pergi.
Suatu hari Mutamakkin kedatangan seorang tamu. Ia menjamu makan dengan lauk ikan kering berkat yang dia dapat. Eh, si tamu melahap habis hidangan itu. Durinya pun tak berisisa. Saat itu, Syekh Mutamakkin mengatakan bahwa anjingnya saja tak pernah makan nasi dan ikan hingga ludes sampai duri-durinya. Seketika itu juga, tamunya pergi dan marah-marah. Nah, sejak saat itulah isu miring tentang kiai pemelihara anjing mulai menyebar ke masyarakat. Penyebabnya yak lain tamunya yang rakus tadi. Mutamakkin juga dituduh menyebarkan ajaran sesat, karena senang membolak-balik lakon Dewaruci. Cerita miring itu akhirnya sampai ke penguasa Keraton Kartosuro, yang ketika itu dipegang Susuhunan Amangkurat IV (1725-1726), yang kemudian diteruskan Pakubuwono II. Syekh Mutamakkin lalu disidangkan di Mahkamah Keraton Kartosuro di depan para kiai yang sudag mendapat mandat dari raja, seperti Kiai Anom dari Kudus, Kiai Winata dari Surabaya, dan Kiai Busu dari Gresik.
Serat Kajen : Mutamakkin Sosok yang Ahli Tasawuf
Berbeda dengan yang ditulis dalam Serat Cebolek, dalam Teks Kajen Syekh Mutamakkin dilukiskan sangat pandai beragumentasi tentang konsep akidah dan syariah. Bahkan para kiai yang sulit memaknai cerita Bima Suci ketika menghadap Dewaruci dijelaskan secara gamblang oleh Syekh Mutamakkin. Sebab, lakon itu mirip ajarannya –Bima mencari ilmu sejati, yang tak lain adalah ilmu tasawuf.
Para kiai pun terpecah dua. Ada yang mendukung dan ada pula yang menentangnya. Akhirnya Raden Demang Urawan menjelaskan kontroversi itu kepada raja. Syekh Mutamakkin pun dipanggil. Semula Mutamakkin enggan memberikan penjelasan. Tapi setelah raja bersedia dibaiat jadi muridnya, ia menguraikan segalanya. Raja merasa puas. Mutamakkin pun dibebaskan dari hukuman bakar yang ketika itu sudah dipersiapkan. “Apabila aku tidak belajar kepada Mutamakkin, niscaya aku akan mati kafir,” kata Pakubuwono II ketika itu.
Teks Kajen sangat bertolak belakang dengan Serat Cebolek, yang menggambarkan Mutamakkin di-KO Ki Anom Kudus saat berdialog tentang hikmah Serat Dewaruci. Mana yang benar ? Zainul Milal Bizawie menyubtkan, kedunya punya cacat mendasar yang membuatnya tak bisa diterima sebagai rujukan sejarah. Ia meragukan orisinalitas dan otentitasnya. Saat Serat Cebolek terwujud, Yasadipura sebagai pengarang masih balita sehingga tak melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mengacu pada penelitian Prof. Dr. M.C. Ricklefs, guru besar studi Asia University of Melbourne, Australia, menurut Zainul, pengarang yang sebenarnya adalah Ratu Pakubuwono I. Jika Yasadipura I dicatat sebagai pengarang, itu berarti telah terjadi penuturan ulang sehingga terjadi proses selektif dan distorsi.
Atas dasar itulah, Zainul menyimpukan, penulisan Serat Cebolek merupakan proyek keraton dalam membentuk kontruksi kebudayaan dan keberagaman Islam Jawa. Pemunculan tokoh martir yang dianggap sesat menjadi hal yang mustahak. Dalam akhir Serat Cebolek, pengarang menuturkan cuplikan kematian para tokoh heretik, mulai Suan Panggung, Syekh Siti Jenar, Amongraga, hingga Ki Bebeluk.
Adapun Teks Kajen, menurut Zainul, validitasnya diragukan karena bersumber dari cerita turun-temurun secara lisan. Fakta dan mitos sudah berbaur. Masa penulisannya juga selang jauh, sekitar tiga abad kemudian, sehingga memungkinkan adanya distorsi. Lainnya, Teks Kajen tak selengkap Serat Cebolek, terutama saat persidangan dan perdebatan mengenai kandugan Serat Dewaruci. Bisa jadi Teks Kajen merupakan duplikasi dari Serat Cebolek yangtelah dimodifikasi untuk kepentingan lokal. Teks Kajen diposisikan Zainul sebagai bentuk perlawanan kultural atas sejarah keraton yang mendiskreditkan Mutamakkin. Zainul, yang secara khusus mengkaji paham keagamaan Syekh Mutamakkin lewat Arsy al-Muwahiddin, menyebutkan, tudingan bahwa Syekh Mutamakkin ingkar sunah sangat mengada-ada.
Kitab ini tidak tersusun secara sistematis, tapi lebih bersifat catatan harian. Sebab ditulis langsung oleh Syekh Mutamakkin, tentunya lebih sahih sebagai sumber sejarah ketimbang Serat Cebolek atau Teks Kajen. Naskah Arsy al-Muwahiddin menjelaskan pandangan tasawuf Mutamakkin, yang ternyata masih dalam bingkai syariah. Dengan demikian, ia bukan penganut tasawuf falsafi yang kerap dinilai mengabaiakan syariah. Mutamakkin justru penganut tasawuf Sunni, yang menggabungkan tasawuf dengan syariah ala Al-Ghazali. Para pengikutnya sejak dulu sampai sekarang tetap meyakini Mutamakkin sebagai seorang waliyullah. “Kalau Mutamakkin dianggap membawa ajarat sesat, mungkin tidak akan ada yang ziarah ke makamnya.”
*Sumber : Silaturahmi Warga Pati

 

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda