Wanita Bergaun Aksara - KMPP Yogyakarta

Senin, April 11, 2016

Wanita Bergaun Aksara


WANITA BERGAUN AKSARA
Oleh: Surini

Salahkah?
Jika aku,
wanita bertidung kadang kala

Munafikkah?
Jika tawaku menenggelamkan patahan tulang belulang
Hingga menjadi obat biusku sendiri

Dimana aku, itu tempatku
Dimana aku, itu napas dan hentiku
Sepenggal suara nadiku lirih menggoda air mata dengan selendang nestapa

Mata masih saja mengeja kisah hidup
Dan musim sepertinya belum usai mengumpulkan serpihan rindu yang tercecer
Tak jua hendak berpihak

Rasaku hanya menjadi segumpal duri dalam darahku sendiri
Asa meratap hingga dipusaran dada
Melekat erat dirusuk waktu

Di bibir telaga menanti sekeping senja membiaskan potret waktu lalu
Biarlah dunia akan menari seperti apa
Tak akan ada tangis menghujani tanah tak bersalah

Bolehkah aku?
Menyaksikan alur yang tak terukur
Dengan merdu nyanyian napas suciku dalam ruang jeda

Yogyakarta

TAK MAMPU BERBAHASA
Oleh: Surini

Pikirku, tak ada lagi bintang yang mengingatnya
Tak ada lagi bulan yang mengucapkannya
Namun itu hanyalah abu yang tak perlu dicumbu
Ketika bumi pun merayakannya

Gemercik zam-zam jatuh terseduh disemak mataku
Para lisan merangkai bait-bait doa
Tersuguh untukku

Keindahan melekat erat dalam batin
Hingga tak mampu ku dekap satu persatu
Bahagiaku bak tak punya lisan
Lumpuh
Tak mampu berbahasa
Hanya lewat aksara senandung syair ini ku balas
Dengan bahasa mata gerimis yang dapat mewakilinya

Yogyakarta


JUMPA DI TIKAR KOTA
Oleh: Surini

Aromamu semakin melilit semerbak gurun melati
Tahu, aku cukup tahu
Dirimu itu bukan penyair ingusan
Bukan musisi kampungan
Bukan pula seniman gadungan

Aku juga tahu
Bagaimana jalanmu dulu
Dikala belajar berdiri, melangkah menapak cercaan kerikil tajam
Dari sudut kota ke kota
Hingga mentari terganti senja berbaju jingga

Aku tahu
Upah yang kau dapat waktu itu
Segudang rempah-rempah darah
Mengguyur tubuhmu penuh liku
Terhempas deru menjelang angan penuh linu

Aku juga tahu
Bukan topeng baru yang ku temu
Dulu, entah kapan
Pernah bersulang manja berparas rona berdua
Bukan bersanding beer, bukan pula vodka
Bersua kata di perempatan tabir surya bertikung mesra

Wahai apa kabar?
Seniman tua berjubah sarjana
Sapaku seraya kala dengar bergetar
Yogyakarta 

* Surini, Penikmat Sastra yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Gajah Mada

Bagikan artikel ini

2 komentar