KMPP Yogyakarta: Puisi
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 06, 2017

Sepi

Sepi
Oleh: Surini


Sepi,
Lagi-lagi sepi kembali lagi
Dihamparan potongan bambu
Duri berserakan disepanjang jalan tua

Tangisku meronta tanpa suara
Pupus ditelan usia yang semakin menjamur
Desauna bertebaran seperti wajahku
Sejak kapan aku kering seperti ini
Napas compang camping diperempatan
Aku bosan

Tua,
Kerinduanku semakin tua
Pada dinding-dinding megah
Aku tak lagi ingin mengemis
Pada dosa
Karana ialah sang pencuri
Senyum berbisa yang menyelundup dilorong renta


Yogyakarta

Minggu, Mei 29, 2016

Wayang Kertas




WAYANG KERTAS
Oleh: Surini


Sudut remang sinar temaram
Mencekik rohku hingga jasad mati berulang kali
Sesalku membudak dalam batin
Menjilat, melumat, tenggelam dalam benakku


Di sela rinai wajah rembulan
Aku merintih lirih menenggelamkan sebongkah pilu
Terlalu sakit menelan harap
Mimpi hanya ilusi dalam dunia juang yang kini tiada arti


Terdampar serpihan lara di telaga nyawa
Jasadku meliuk-liuk terhujani beribu senapan
Dalam bisu terlukis asaku
Lewat senandung gerimis yang kau lahirkan


Derita melepuh dalam peluh
Terkucil ditengah ilalang gesang, mengerang menyerpihkan harapan
Teduhku yang dulu retak penuh bercak
Terhuni wayang kertas yang tak bijak


Yogyakarta


*Surini, Mahasiswi yang gemar bercanda yang lagi sibuk mengejar cita-citanya sebagai bidan di Universitas Gajah Mada.

Kopiku



  







 
Kopiku
Oleh : Erfa Kamelia

Pernah mendengar tentang kisah ''love story"?
Atau kisah legenda raja dan ratu yang mendunia ?
Jika kisah cinta yang seperti itu yang kau damba maka sumpah serapah yang akan engkau dapat
Aku?  
Hanya pengembara yang terombang ambing oleh cerita "love story" 
Hingga...
Kopi malam ini tanpa bibirmu hampa, hambar tanpa rasa
Jika bukan karena angan yang selalu datang mungkin aku tak sanggup lagi meneguk secangkir kopi ini
Jadi kopi macam apa yang akan kau seduh untuk malam berbintang ini?
Espresso ? ataukah Robusta ?
Di cangkir ku semua terlihat sama hitam tanpa rupa
                                                                     Hilang tanpa rasa     
Pergi tanpa pernah kembali
  

*Erfa Kamelia, Mahasiswi yang doyan sekali traveling dan jago naik gunung yang saat ini sedang menempuh studi di Universitas Setia Budi, Solo.

Rabu, Mei 11, 2016

Sang Wayang




Sang Wayang
 
  Oleh : Erfa Kamelia 

Menanti mentari yang jauh
Suara-suara embun menari di kepala
Suara yang lebih merdu dari suara rintihan serigala
Malam selalu kelam dalam hidupku

Bukan hanya sekedar Arjuna lan Sadewa
Jari jemari menari dalam alunan gong yang indah
Udara malam yang mencekam
Mata memandang tajam terhadap tuhan

Akankah wayang ini dapat bernafas ?
Tetapi Petruk hanya terdiam
Bagong hanya membisu
Lalu bagaimana kau Gareng ?

Dalam hening malamku bergema
Merintih dalam siang
Berharap gamelan ini memberiku hidup
Hidup dalam suatu alunan yg indah
Hidup yang agung yang memberiku nyawa akan kematian

Pasir yang menguning selalu membawa ku akan damainya suara angin
Aku menghilang dari nafas sang gamelan
Pergi dari tongkat-tongkat tertancap di dada
Kaki menuntun pada titik kelabu

Sinden yang ku rindu
Terbawa arus kesunyian sang gamelan
Dalam dunia pewayangan yang selalu ku rindukan
Hilang terbawa masa

Masa kelam yang tajam
Tanpa ada sang penari yang melawan arus
Yang ada hanya lantunan suara maut mencekam
Berkuasa pada setiap fajar 

* Erfa Kamelia, Mahasiswi Farmasi Setia Budi, Solo, yang doyan  sekali naik gunung dan traveling

Senin, April 25, 2016

Ketika Itu




Ketika itu...
Wanita-wanita paruh baya dengan kekuatan seadanya
Usia yang begitu senja
Nafasnya yang tersengal-sengal di bawah terik matahari
Dengan wajah putus asanya
Mereka hanya bisa menatap dengan tatapan kosong
Ya... kosong!!!
Kosong... karena tidak tahu harus berbuat apa

Ketika itu...
Wanita-wanita itu tak menanak nasi seperti biasanya, 
Tak menyalami anaknya sekolah
Hanya berdiam diri, termenung di atas aspal
Mematung dengan kerisauannya
Serta bungkam
Tak seperti sore hari lalu, bercengkrama dengan sesamanya

Ketika itu...
Di depan gedung besar
Sebut saja gedung keadilan
Wanita-wanita itu berbau balsem menyengat
Berkomat-kamit, melafadkan doa hingga bibir-bibir mereka mengering
Begitu pun harapan mereka
Harapan yang begitu besar bisa pupus seketika hanya dengan perkataan satu orang
Ketua Hakim   

Ketika itu... 
Sebenarnya wanita-wanita tua itu rela berjalan kaki
Menapaki aspal ratusan kilometer
Menahan perihnya sendi-sendi kaki
Hingga baju mereka basah oleh derasnya peluh
Hanya ingin satu hal
Keadilan...
Keadilan yang mampu menjaga tanah mereka  
Sebab tanah adalah sumber penghidupan
Sumber penghidupan hingga anak cucu mereka  

Ketika itu... 
Melihat mereka, wanita-wanita itu, wanita yang tak berdaya lagi 
Hati terasa terkoyak-koyak termakan anjing biadab 
Bahkan terasa tertampar berulang kali, perih, ya perih... 
Mereka itu para ibu 
Ibu yang senantiasa menjaga dan menyanyangi anaknya 
Demi keselamatan anaknya 
Mereka rela mengorbankan diri, sekalipun itu nyawanya 
Dimana kah hati nurani sekarang ini? 
Dimana? 
Apakah hati nurani sekarang telah tinggal nama? 
Entah lah... 
Hanya saja ketika itu, melihat itu, teringat wanita yang telah melahirkan kita

*Persembahan untuk wanita-wanita tangguh dari Jaringan Masyarakat Peduli Kendeng (JMPK). 
 

Kamis, April 21, 2016

Berahim Puisi



BERAHIM PUISI
Oleh: Surini

Suaraku membusuk di antara lesung waktu yang begitu manis
Lidah masih saja menari-nari
Dalam kerinduan yang tersesat

Tawaku tenggelam pelan
Ketika debu menampar parasku
Dalam ranjang peraduan

Rembulan pun melamun
Menyaksikan desahku di selakang malam
Di antara cumbuan bibir puisi yang semakin menggigil

Dimana jejakku masih tersisa
Ketika pantai tak lagi berpasir
Menanggalkan seluruh waktu yang pekat

Aku belum saja mengerti
Kenapa rusukku mampu dijinakkan
Oleh jasad-jasad puisi
Yang selalu menyetubuhi malam-malamku dalam kesendirian

Aku hanyalah tanah liat berahim puisi
Sampai desah napas pupus diburu waktu
Gugur melepas helainya
Namun anak puisiku masih tetap cantik
Terlilit gaun tak bertulang

Yogyakarta

Senin, April 18, 2016

Menyeruput Secangkir Puisi



 MENYERUPUT SECANGKIR PUISI
Oleh: Surini

Sekali waktu aku ingin berkisah
Jika aku pernah menari dibalik kabut
Dalam tarian bumi yang seksi
Hanya untuk membasuh hasratku

Jangan kau bertanya
Kenapa aku mencari diriku sendiri
Di bawah sisa gerimis yang menipis
Di antara kerumunan perlawanan arus yang begitu mencekik

Aku hanya mampu menjerit di antara rerumputan yang tuli
Mengunyah kelam gairah dalam percakapan
Untuk menghalalkan setiap kata yang terlanjur di ludahkan
Terhempas di tepi usia

Bulan sabit mengintip di antara kulit angin yang berlarian
Ketika malam merangkul begitu erat
Mencumbui di antara keremangan waktu yang tiada berujung
Hingga terlelap dalam erangan secangkir puisi yang hampir retak

Yogyakarta 


Senin, April 11, 2016

Wanita Bergaun Aksara


WANITA BERGAUN AKSARA
Oleh: Surini

Salahkah?
Jika aku,
wanita bertidung kadang kala

Munafikkah?
Jika tawaku menenggelamkan patahan tulang belulang
Hingga menjadi obat biusku sendiri

Dimana aku, itu tempatku
Dimana aku, itu napas dan hentiku
Sepenggal suara nadiku lirih menggoda air mata dengan selendang nestapa

Mata masih saja mengeja kisah hidup
Dan musim sepertinya belum usai mengumpulkan serpihan rindu yang tercecer
Tak jua hendak berpihak

Rasaku hanya menjadi segumpal duri dalam darahku sendiri
Asa meratap hingga dipusaran dada
Melekat erat dirusuk waktu

Di bibir telaga menanti sekeping senja membiaskan potret waktu lalu
Biarlah dunia akan menari seperti apa
Tak akan ada tangis menghujani tanah tak bersalah

Bolehkah aku?
Menyaksikan alur yang tak terukur
Dengan merdu nyanyian napas suciku dalam ruang jeda

Yogyakarta

TAK MAMPU BERBAHASA
Oleh: Surini

Pikirku, tak ada lagi bintang yang mengingatnya
Tak ada lagi bulan yang mengucapkannya
Namun itu hanyalah abu yang tak perlu dicumbu
Ketika bumi pun merayakannya

Gemercik zam-zam jatuh terseduh disemak mataku
Para lisan merangkai bait-bait doa
Tersuguh untukku

Keindahan melekat erat dalam batin
Hingga tak mampu ku dekap satu persatu
Bahagiaku bak tak punya lisan
Lumpuh
Tak mampu berbahasa
Hanya lewat aksara senandung syair ini ku balas
Dengan bahasa mata gerimis yang dapat mewakilinya

Yogyakarta


JUMPA DI TIKAR KOTA
Oleh: Surini

Aromamu semakin melilit semerbak gurun melati
Tahu, aku cukup tahu
Dirimu itu bukan penyair ingusan
Bukan musisi kampungan
Bukan pula seniman gadungan

Aku juga tahu
Bagaimana jalanmu dulu
Dikala belajar berdiri, melangkah menapak cercaan kerikil tajam
Dari sudut kota ke kota
Hingga mentari terganti senja berbaju jingga

Aku tahu
Upah yang kau dapat waktu itu
Segudang rempah-rempah darah
Mengguyur tubuhmu penuh liku
Terhempas deru menjelang angan penuh linu

Aku juga tahu
Bukan topeng baru yang ku temu
Dulu, entah kapan
Pernah bersulang manja berparas rona berdua
Bukan bersanding beer, bukan pula vodka
Bersua kata di perempatan tabir surya bertikung mesra

Wahai apa kabar?
Seniman tua berjubah sarjana
Sapaku seraya kala dengar bergetar
Yogyakarta 

* Surini, Penikmat Sastra yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Gajah Mada

Selasa, April 05, 2016

Surat Di Sudut Bibir



 

SURAT DI SUDUT BIBIR
Oleh: Surini

Gelap menjubahi bibir tergetas
Bukan karena udara yang gigil
tuan,
Apa engkau mendengar ceritaku
Merintih dibalik gubuk
Dalam tarian makhluk kecil yang mencintai tubuhku
Begitu mesra mengakar
Memeluk setiap sayat daging
Meskipun tak dapat kugapai dengan mata telanjang

Temaram dalam kelabu menabuh nyanyian mata gerimis
Senandung syair jantung selalu menggema
Dalam suara terbata-bata
Aku hanya merengguk ampas
Yang membuatku terbatuk
Aku hanya mampu
Merangkak memungut detik demi detik
Menyusuri denting ayunan takdir
Dari bilangan usia yang tak dapat dirumuskan

Di setiap atap perempatan senja
Setiaku menunggu kehadiran penjeput pilu
Namun asa hanya berkeping jadi debu
Di ujung jalan tak berujung
Udarapun menyengir
Di tepi pintu nafasku
Ku hanya tulang rapuh tanpa koin
Terkapar di tanah gesang tak bertuan
Yogyakarta

DIRIKU BERGANTI NAMA
Oleh: Surini

Kulit mulusku kini bertailalat
Tubuh pun tak sedap berbau pengap
Sejuk jago merah menjilat kuat penuh santap
Lapuk, kulit kering mencuat tak berkarat

Lisan berlalu lalang di padang ilalang hilang
Jantung mengatup, mata membuta
Derita bertahta, tangis meringis
Paras rona rembulan petang kian pulang

Detik-detik mendebarkan diriku berganti nama
Negeri asap, telah bermuara di tikar cakrawala
Sirna sudah, lahir jari jemari menengadah
Para wayang berjalan tanpa arah bertubuh penuh panah

Yogyakarta


JAWABNYA
Oleh: Surini

Saya ini hanya polusi
Tenang,
bukan racun yang sekaligus mematikan
Lisanku belum usai
Tenanglah

Seperti yang terlihat
Buah kataku terpetik ranum, tak mampu berbohong
Terdidik apik
Oleh sahabat kecilku
Bola putih bernoda hitam itu

Tenanglah,
Kau kan temukan jalanmu diujung waktu nanti
Hingga setundung harap,
sebongkah pilu
tak akan pernah memelas,
merengek-rengek lagi 

Bukan jalanku yang akan kau lalui
Ini sakit,
ini licin sangat licin
Kau pasti akan terjatuh
Hingga asamu melepuh

Perlu kau tau
Lorong ini sangat kotor,
dunia pun enggan menoleh
Hanya waktu yang mampu menjadi sahabatku
Menimbun albumku dengan deburan debu  

Abstrak,
matapun kasad melihat
Hingga dunia buta
Bisu,
tak mengataku lagi

Yogyakarta


BERNOSTALGIA DI TAMAN SURGA
Oleh: Surini

Bunga cantik itu telah layu
Kriput, mengerut
Tiada kelu menderu
Cintanya terus menerus mengalun lembut

Bunda
Aku dengar lagi suaramu disini
Di tepi kota berbaju senja
Dimana darah menangis meringis

Rindu kian terbalaskan
Tiada lagi cercaaan
Hingga lahir cerita bulan bernostalgia di taman surga
Terajut bahagia paripurna di tengah istana

Pati 


*Surini, Penikmat sastra yang kebetulan lahir di Desa Kuningan, Juwana.

Ad Placement

Wacana

Puisi

Makalah